YOLO

Lagit mendung tak tentu hujan (cakep) 

Stres tak terbendung menjelang ujian 

πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»πŸ‘πŸ»

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh selamat malam sdr/sdri (berdasarkan latar tulisan ini dibuat). Tujuan dari pembuatan blog ini semata mata untuk memenuhi tugas TIK yang dibimbing oleh Bapak Aminul Fuad. Sebelumnya perkenalkan saya Fara, tapi disekolah biasanya dipanggil Diana. Di blog ini saya akan menyuguhkan cerita (fiksi) dari isi pikiran saya saat ini.


Tentang Previlege 

Ayah : Sabar ya nak, uang ayah belum cukup buat belikan kamu laptop (ucap ayah kepada Risa sembari merasa sedih).

Risa : I-iya ayah, gapapa kok aku nanti bisa pinjam dulu (Sahut Risa canggung). 

Risa kini tengah menduduki bangku SMP tepatnya di kelas 8. Ia tergolong murid yang pintar, rajin, dan sopan. Selain itu, Risa juga berbakat dalam bidang Kesenian seperti menggambar dan lainnya. 


Perkembangan zaman lirih berganti hingga memunculkan berbagai teknologi canggih yang mampu menunjang pendidikan. Namun, beberapa orang yang tidak mampu untuk terus mengikuti update perkembangan tersebut akan berbeda nasibnya. Salah satu contohnya adalah Risa. Ia terlahir di lingkup keluarga yang cukup, baik dari segi ekonomi dan kasih sayang.


Risa adalah anak yang rajin menabung, ia selalu menyisakan uang saku dari ayahnya, Risa berniat menabung untuk membeli laptop. Meski begitu, uang yang ditabungnya akan selalu terpakai untuk keperluan PR ataupun TUGAS KELOMPOK entah itu dalam bentuk iuran, print atau lainnya. 

~

Dira : Eh sa, tadi ada informasi terbaru dari bu Hasna, katanya lomba mendesain posternya pake digital

Risa : Loh, kemarin katanya pake cara manual kok tiba tiba diganti sih, mana aku udah terlanjur daftar  

Dira : Nggak tahu (balas Dira sambil mengendikkan bahunya). 


Dira adalah teman sekelas Risa, Dira berasal dari keluarga kaya, ia sangat berkecukupan, dan ayahnya memiliki banyak koneksi, bahkan semua guru disekolah Risa pasti tahu mengenai keluarga Dira.

Risa kebingungan, ia tak bisa jika harus mengikuti lomba itu. Risa pun menjelaskan keadaannya kepada bu Hasna.

Risa : Bu Hasna, sebelumnya mohon maaf saya tidak bisa ikut lomba mendesain posterya

Bu Hasna : Loh memangnya kenapa?

Risa : Saya masih belum pernah buat poster digital bu, saya juga nggak punya komputer atau Hp yang bisa dipakai untuk mendesain

Bu Hasna : Loh loh loh kamu kok gampang menyerah gini, lihat tuh Dira, dia juga belum pernah mendesain poster digital. Kan bisa pinjam laptop atau kamu bisa desain di lab komputer saja

Risa : O-oh iya bu terimakasih


Sebenarnya Risa masih ragu untuk mengikuti lomba itu. Namun keraguan itu dipatahkan dengan senyum haru ayahnya 

Ayah : Keputusan ada ditangan kamu Risa... Tapi ayah yakin kalau anak ayah pasti bisa. Kesempatan itu memang terkadang datang dua kali, tapi kesempatan nggak selalu datang saat kamu mau mau aja, jadi menurut ayah kamu ikut saja. Menang kalah ayah tetap bangga yang penting kamu bisa dapat pengalaman (ucap ayah sambil tersenyum manis)

Kemudian, Risa dengan giat belajar bagaimana cara mendesain digital. Ia mencari berbagai macam video dan teori tentang cara mendesain secara digital. Bahkan kantung mata nya begitu menonjol, Risa juga tidak enak badan karena terus begadang seminggu belakangan ini untuk belajar mendesain. Di tengah tengah proses mendesain, Risa bertanya kepada Dira tentang perkembangan desain posternya, karena Dira juga mengikuti lomba yang sama

Risa : Eh Dir, kamu udah selesai buat posternya?

Dira : Iya dong, udah dari kemarin tau gampang banget aku sehari juga udah jadi

Risa : Cepat bangett aku paling lama bikin elemennya, apalagi komputernya sekolah itu lemooott banget, jadi susah

Dira : Oh, aku sih elemennya di buatin sama guru les desain ku, ide nya juga dari kakak ku. Aku juga pake 2 laptop buat ngedesain baru dibeliin kemarin, jadi terbantu banget sih

Risa : o-ohh gitu ya 

Risa sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Dira. Hal yang Risa anggap berat, terasa enteng oleh Dira, karena Dira memiliki keistimewaan dan orang orang sekitar yang menunjangnya. 

Meski begitu, hal tersebut tidak melunturkan semangat Risa, Risa malah semakin tertantang. Ia tak mau menyerah di tengah usaha yang telah dilakukannya selama ini. Risa bahkan tidak tidur semalaman demi mengerjakan poster digitalnya. Hingga esok hari, Risa mengumpulkan desain poster yang telah ia kerjakan semalaman.

~~

Hari pengumuman pemenang lomba desain poster digital tiba. Risa meraih juara 1 dan Dira mendapat juara 2. Risa sangaaaatt gembira, hal yang telah ia lakukan selama ini berbuah manis. Usaha dan doa yang dilakukan Risa telah terjawab. Pada akhirnya Risa menyadari sesuatu bahwa, 

Kepintaran dan kreatifitas itu tidak butuh previlege. Tergantung bagaimana usaha kita mengolah bakat dan kemampuan yang kita miliki. Tapi mungkin untuk menggapai tujuan atau impian kita memang membutuhkan suatu previlege, karena dengan adanya hal itu kita bisa unggul dibanding orang lain.

Mungkin kita merasa sudah berusaha semaksimal yang kita bisa, tapi orang menganggap itu hal sepele. Seringkali orang orang hanya memperhatikan dan memberi semangat ke anak anak yang punya previlege, terus kita gimana? Alright, give hwaiting for yourself. Beri semangat dan dorongan sama diri kita sendiri.

TAMAT

Terimakasih, arigato, khamsahamnidah, sudah menyempatkan waktu untuk membaca cerita di atas. Semoga dengan adanya cerita itu, bisa menjadi hal hal positif yang membangun untuk khalayak umum












Komentar